Kita tidak perlu tau orang lain butuh kita atau tidak, yang terpenting adalah kita selalu ada buat mereka

white

white

Sabtu, 09 April 2016

Random

Saat aku terjaga dari mimpi ku, terdengar gemercik air yang tak tenang.
Mereka saling berlomba untuk mencuri ketenangan dalam pikiran ku.
Tapi di sisi lain mereka memberi kedamaian yang bahkan tidak dapat ku ungkapkan.
Karena hujan adalah suatu kenangan yang tidak dapat terlupakan.

Samar memang berarti tidak jelas, tapi tetap ada.
Ketidak jelasan hanyalah alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Maka kenyataan adalah sebuah transparansi dari apa yang mereka samarkan.
Ingatan hanyalah gambaran dari masa lalu yang telah samar terlihat.
Sedangkan kenangan adalah keindahan dimana setiap orang tidak dapat mengungkapkan hanya dengan ucapan.

Hujan seperti musik yang mengalun mengikuti irama lantunan indah dari imajinasi.
Malam ini ijinkan aku menggunakan mesin waktu untuk menghentikan tiap sajak yang di baca oleh sang maestro kehidupan.
Setiap jalan yang kita lewati adalah takdir yang di tentukan oleh kita sendiri.

Ada dua cara menghadapi kenangan seseorang di masa lalu.
Kau dapat membuang kenangan itu dan menganggapnya tidak pernah terjadi atau kau dapat menerima dan membiarkan kenangan itu tetap ada sebagai bagian dari perjalanan hidup yang pernah kau lalui.

Kebahagiaan datang bukan karena kita menemukan apa yang kita cari, tetapi kebahagiaan datang karena kita di temukan oleh orang yang mencari jawaban itu.
Kupu kupu yang terbang dengan sayap indahnya pernah menjadi ulat yang menjijikan dan dipandang rendah oleh sebagian besar orang.

Roda selalu berputar tapi harus kita tau bahwa roda tidak memiliki sudut, jadi kita bebas menentukan dimana posisi kita berada.

Telah aku tulis ratusan puisi.
Ribuan bait pun telah ku susun rapi.
Walau sangat sulit untuk menyusun ribuan kata yang ku temukan.
Tetap saja semua yang ku punya tidak sebanding dengan ciptaan mu.

Permata yang jatuh dalam kubangan lumpur yang kotor dan hina tidak akan pernah berubah nilainya sebagai sebuah permata.

Senin, 14 Maret 2016

Malaikat

Malaikat

Malaikat tak hanya satu namun hanya memiliki satu tujuan...
Aku tak pernah melihatnya, siapa orang yang pernah melihatnya?
Menurutku tak ada satu pun orang bernyawa yang pernah melihatnya...
Hanya kematian yang menuntun kita pada semua jawaban duniawi...

Aku terkadang membayangkan bagaimana paras makhluk tanpa ingkar itu...
Apakah mereka saling mengenal satu sama lainnya...
Atau mereka hanya tau perintah dan menjalankannya tanpa kesalahan...
Mereka pastilah suci bagai kertas putih tak bernoda...

Mereka terbuat dari cahaya dan mereka tak dipahami manusia...
Namun disisi cahaya selalu ada bayangan hitam yang menemani...
Bukankah itu yang dinamakan keseimbangan dalam kehidupan ini?
Ilmu ku tak dalam, iman ku tak kuat, hanya kebodohan ku saja yang terlalu besar...

Apakah benar malaikat memiliki sayap seperti yang orang katakan?
Apakah benar malaikat yang tak pernah ingkar itu pernah menjadi murid syaitan?
Aku tak membutuhkan jawaban atas semua tanya yang ku lontarkan itu...
Karena aku percaya bahwa Tuhan tak pernah berbohong pada manusia...

Selasa, 27 Oktober 2015

Mencari secangkir kopi

Pagi...
yang lama tak terhiasi mentari...
Duhai insan teruskanlah menari...
Meski resah jiwa menelusup dispenjuru lubang pori...
dan, keraguan terys berputar mengitari...
Sejengkal demi sejengkal langkah terus bawahlah berlari...
Walau kenyataan ditiap persimpangan tersebat tajamnya duri...
Kais yang terindah dengan balutan arti cukup...
tepiskan dengki iri...
Tuhan memang telah pastikan isi pundi...
Kuasanya jangan pernah kita ingkari
Nikmat pagi tanpa mentari...
Tanpa lentera mata teruslah menelusuri...
Jalan masih panjang...
Dia telah Janjikan...
Keindahan bagi semua yang selalu tunduk sujudkan diri...
ahay...
pagi masih tak bermentari...
aku pun terus mencari...
Mencari secangkir kopi...

Selasa, 27 Januari 2015

Tentara Kecilku ^_^

selamat pagi tentara kecilku, kau bagaikan makhluk yang terlahir di dunia ini yang paling indah yang aku punyai. Kau selalu menjadi kebangganku sampai kapanpun. Tapi maafkan ayahmu ini, tak bisa membuatmu selalu bahagia. Tak bisa membuatmu seperti anak-anak yang lain. Seharusnya kau berada di tempat dimana kamu mencari ilmu. Tapi apa daya, aku tak sanggup lagi untuk meneruskan impian"mu tentara kecil. Maafkan aku...

Sungguh aku seperti orang tua yang tak mampu membuatmu bahagia, yang hanya bisa membuatmu mengikuti kesusahan hidup ini. Tentara kecilku, ayahmu minta maaf ya. Ayah janji akan selalu berusaha untuk mewujudkan cita-citamu. Kau harus menjadi lebih baik dari ayahmu ini, kau harus lebih pintar dari ayahmu ini. Kau harus bisa merasakan nikmatnya hidup ini. Cukup ayahmu saja yang merasakan pahit dan kejam nya hidup ini. Kau hanya perlu tau dan merasakan nikmatnya saja. Doa in ayah biar bisa dapat kerjaan lagi ya tentara kecilku.

Tentara kecilku, sekali lagi ayah minta maaf ya. Belum bisa menjadi ayahmu yang baik seperti teman-temanmu yang lain. Kau adalah satu-satu nya harapan yang aku punyai di dunia ini, kau selalu mengatakan "aku bangga mempunyai ayah sepertimu, ayah semangat terus ya jangan pernah menyerah. Aku akan selalu mengikuti kemana pun ayah pergi". Aku bingung darimana kau belajar mengucapkan arti kata-kata itu. Kata- kata itu membuatku menangis di depanmu. Tentara kecilku bertanya " kenapa ayah menangis? ada yang menyakiti ayah kah? atau aku ada salah ama ayah? . Enggak ada yang salah anakku, ini ayah bukan menangis sedih tapi ini air mata kebahagiaan yang keluar dengan sendirinya . Ayah bangga mempunyai anak sepertiimu, mungkin bidadari yang dulu pernah kita punyai sekarang bahagia melihat kita seperti sekarang ini dari atas sana. Malaikat cantikku jika kau dapat melihat kami dari atas sana dan mendengarkan apa yang aku katakan, dengarkan janjiku ini " aku akan menjaga tentara kecil kita, prajurit yang dulu pernah membuat kita merasakan arti nya setelah kehadirannya. Dan aku janji dia harus bisa jadi lebih baik dari aku.  *memeluk tentara kecilku*

Selasa, 16 Desember 2014

Keimanan Modal Indah Untuk Pernikahan

Menikah di usia 20 tahun, kuliah di Kebidanan semester 4, dibiayai oleh kakak sulung. Dengan calon suami berusia 21 tahun, sedang kuliah, membiayai diri sendiri, belum mempunyai pekerjaan, menanggung 6 adiknya untuk hidup. Apa anda berani menikah dalam keadaan seperti itu? Rumit, banyak mainset yang perlu diubah. Apa yang terjadi? saat mindset sang wanita sudah berubah, begitu pula mindset sang lelaki sudah berubah, Lamaran itu ditolak orangtua pihak wanita karena pertanyaan, "Apa yang kamu punya untuk menikah?".

"Saya memang belum mempunyai apa-apa dari segi materi, pak. Saya hanya minta keridhoan bapak dan ibu untuk menikahkan saya dengan putri bungsu bapak dan ibu. Saya hanya berpijak pada keimanan saya yang belum cukup, selalu tidak cukup. Saya hanya takut, jika pernikahan ini menunggu materi yang saya punya nanti, saya malah tergelincir berbuat maksiat kepada-Nya. Tidak ada yang bisa menjamin, saya dan putri bapak yang saling mencintai karena Allah dapat terhindar dari maksiat dan dosa, meskipun kami sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Na'udzubillahi min dzalik. Nabi Adam pun dapat tergelincir rayuan dan bisikan syetan, padahal ia bertemu langsung dengan Allah. Keimanannya pun pastilah sangat kuat. Apatah lagi saya yang bukan siapa-siapa, keimanan saya terlalu rapuh, saya tidak pernah bertemu langsung dengan-Nya. Yang saya punya hanya keinginan kuat untuk berada dalam jalan yang diridhoi-Nya dengan mengikuti Rasulullah, menjalankan sunnah untuk menyempurnakan setengah dari agama."

Dan jawabannya, "Kami pun tidak terlalu mengunggulkan materi, hanya saja kita tetap perlu untuk kelangsungan kehidupan sehari-hari. Saya tidak menolak, tapi tolong ditangguhkan sampai kalian mampu. minimal untuk hidup kalian saja" Sang Bapakpun menjawab.

Matapun pedih, panas, hati pilu. Lelaki sholeh yang asalnya pun belum berniat menikah pada usia yang demikian muda, namun untuk menjaga fitnah dirinya dan wanita yang dicintainya, ditolak karena belum mempunyai materi apa-apa. Ia pun pulang dengan senyum. Harus tetap dalam keadaan baik, apapun yang terjadi. Prinsipnya.

Malam hari setelah peristiwa. "Bapak, kalau Bapak mengaku mencintai Rasul. Tahu tidak apa yang Beliau katakan tentang ini?" sang putri pun mengingatkan.

"Silakan sayang, utarakan. Apa kata Beliau?" tanya sang ayah mempersilakan.

"Kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. Barangsiapa menolak lamaran seorang lelaki yang sholeh, maka tunggulah fitnah yang akan menghampirinya."

"Nak, Bapak bukan menolak. Tapi menunda."

"Ini bukan bentuk pemaksaan atau pembelaan diri, coba dengar dan ikuti suara hati ayah... Kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita hidup. Kenapa kita berani menunda? seolah olah kita tahu kapan datangnya ia (kematian)."

"Baiklah kalau tidak ditunda. Bagaimana dengan tempat tinggalmu?"

"Tidak maukah ayah, aku tinggal disini sementara bersama suamiku. Atau bila tidak aku tinggal di sini dan suamiku tinggal di rumah ibunya. Sementara sampai kami mampu?"

"Tentu ayah mau. Tapi apa kata orang, sayang?"

"Bila ada yang berani menggunjing. Biarlah ia bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Generasi terbaik pun pernah mengalaminya. Saat 'Aisyah r.a dinikahi Rasulullah. Ia tinggal bersama orangtuanya (Abu Bakar Ash-Shidiq r.hum), sedangkan Rasulullah di Madinah. Beliau tidak mempermasalahkannya, kenapa kita mempermasalahkan. Keimanan yang membuatnya indah, Ayah!"

"Kamu benar sayang, bagaimana dengan biaya hidup atau minimal makanmu sehari-hari?"

"Ayah, kami punya iman. Kami bukan orang-orang yang hanya ingin berpangku tangan. Kami akan berusaha, terus berusaha. Sekali lagi, ridhokah Ayah sementara waktu menanggung biaya makan putri Ayah yang sudah menikah?"

"............... Ridho sayang. Sangat ridho. Tapi kok, kesannya suamimu enak banget. Hanya ingin menikahi tanpa harus menanggungmu."

"Abu Bakar tidak pernah bilang begitu pada Rasulullah, Ayah!"

"...................................................."

"Kami akan berusaha, Ayah. Akan. Kami berjanji! Iman penuntun kami! Baiklah kalau begitu ada pilihan lain."

"Apa itu?"

"Nabi SAW bersabda: Tidak ada kewajiban bagi suami untuk menafkahi istrinya, sebelum ia melihat istrinya dalam keadaan tidak menutup auratnya (tidak berpakaian). Bagaimana kalau selama kami belum mampu, suamiku diminta bersabar untuk tidak melihat auratku. Insya Allah ia pun tidak akan menuntut karena niat kami menikah bukan semata-mata karena syahwat? Bagaimana jawaban ayah nanti di hadapan Allah dan Rasul-Nya saat ternyata memang ada solusi yang sudah Rasul terangkan, tapi tetap dibantah hanya karena materi?"

"Rasulullah benar! Baiklah. Ayah mengerti. Bagaimana dengan pesta pernikahanmu?"

"Sebaik-baik wanita adalah yang tidak menyulitkan dalam maharnya. Kesholehannya sudah cukup dan tak akan tergantikan dengan apapun, Ayah. Tidak dirayakanpun tidak apa-apa. Karena hakikat pernikahan bukan pada pestanya. Tapi keteduhannya hingga akhir hayat. Pesta meriah dan megah tidak menjadi jaminan keutuhan rumah tangga. Memang sekali seumur hidup, hakikatnya bukan pestanya yang dimaknai sekali seumur hidup, tapi pernikahannya yang diharapkan sekali seumur hidup. Memang indah, menjadi Ratu dan Raja semalam pada pesta pernikahan. Tapi, apa keinginan itu harus sampai mengeluarkan uang puluhan juta? Belum tentu pernikahan nan megah itu menjadi ingatan orang. Lalu sebenarnya untuk apa? Lebih baik, itu untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak menyusahkan orang tua dan tidak menyusahkan calon suami. Biarlah senyuman Allah mengiringi kami. Kami ridho."

"Subhanalloh!"

"Seperti Zainab dan Muhammad, menikah tanpa dirayakan. Tapi kerajaan langit langsung yang merayakan. Tidak ada yang lebih indah dari itu!"

"Benar!"

"Ayah, jadi apapun aku nanti. Jadi bidan yang kaya raya, jadi wanita sukses, sedangkan suami tidak seperti itu. Bukan pelegalanku untuk merendahkannya. Jadi sehebat dan sekaya apapun, aku tetap istri. Hartanya ia berikan pada suami pun menjadi pahala yang besar baginya. Aku ridho, ayah. Aku tidak ingin orang-orang yang aku cintai harus kesusahan menanggung hidupku, aku akan membantunya menafkahi rumah tangga, dengan bekerja sesuai dengan kodratku dan atas izin darinya, ketika ia belum mampu. Khadijah r.a sudah mencontohkannya, saudagar kaya raya itu memberikan seluruh hartanya untuk suaminya tanpa merendahkannya. Tetap menaatinya. Karena iman, ayah. Itu yang ingin aku ikuti."

"............................................" sang ayah tak berkata, hanya linangan air matanya yang mendera.

"Ia anak sulung dari 7 bersaudara. Siapa yang salah? Tidak ada yang salah. Betapa malangnya ia tidak diinginkan wanita hanya karena menanggung banyak adiknya, padahal ia begitu sholeh dan hafal Al-Qur'an. Siapa yang bisa memilih, dimana kita akan dilahirkan? Siapa orangtua kita? Berapa jumlah adik kita? Dari keluarga mampukah atau dari seorang ayah pemecah batu? Seorang Nabi pun menangis mencium tangan seorang pemecah batu untuk menafkahi keluarganya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita menolak? Siapakah kita dibanding dengan Rasulullah? Bukan salahnya dia anak sulung dari 7 bersaudara, bukan keinginannya pula. Jangan khawatir ayah, do'akan kami mampu menjalani hidup ini...."

"Baik sayang, baik. Ayah ridho. Ibu Ridho. Semogapun Allah Ridho. Keimanan, itu solusinya. Semua bisa berubah menjadi indah dan mudah di tangan orang yang beriman...."

Berhasil! Sayapun telah menikah tanpa dirayakan. Maharpun tidak menyusahkan. Kuliah tetap lanjut. Akhirnya suamipun mempunyai pekerjaan yang mapan. Semoga hidup ini senantiasa diliputi iman. Amiin....



( Tulisan ini hanya copy paste entah sumber nya dari mana, nama penulis nya mungkin Malati Puspa Endah )

Sabtu, 08 November 2014

Senja di Atas Langkan

Dari atas tempatku berpijak, aku melihat ribuan bayang yang tak ku kenal.
Ribuan mata memandang ku dengan cara pandang yang tak sama.
Mereka berada di bawahku, namun kami sama rendahnya.
Kami sama berada dibawah mentari yang enggan tenggelam.

Di atas langkan ini aku bersuara lirih namun hatiku berbicara lantang.
Mereka datang tidak hanya ingin melihatku bersenandung.
Mereka datang dengan maksud menghujat tubuh lemahku.
Aku tak berdaya, namun aku bukan seorang pengecut.

Kini hanya aku, sendiri terdiam dan memandang langit jingga yang pudar.
Mungkin inilah senja yang datang dari dunia yang tak lagi suci.
Hidup ini mudah, namun tak semudah membalikkan telapak tangan ku sendiri.
Andai ini adalah mimpi, mungkin aku masih dapat berharap tak pernah terjaga.

Senja telah menghilang dan terganti gelapnya langit tanpa bintang.
yang ada hanyalah cahaya dari lampu yang telah meredup.
Seperti hidup diantara gemerlapnya dunia.
Suatu saat aku tak dapat menghindari kegelapan memakan jiwaku secara perlahan.
 
-sj

Rabu, 29 Oktober 2014

...

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan diri nya jatuh begitu saja ...
Tak pernah melawan, mengikhlaskan semuanya meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan ...
Biarkan dia jatuh sebagiamana mestinya ...
Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana ...
Bersabar bukan berarti tidak melakukan apapun ...
Bersabar bahkan bisa ada dalam sebuah usaha besar menakjubkan dan kita sabar melewati rintangan dan cobaan ...
Tenang ...
Salah paham bisa di selesaikan dengan baik ...
Kekeliruan bisa di perbaiki ...
Kekecewaan bisa di obati ...
Asal mau bersabar sejenak dan selalu tulus ...