Ribuan mata memandang ku dengan cara pandang yang tak sama.
Mereka berada di bawahku, namun kami sama rendahnya.
Kami sama berada dibawah mentari yang enggan tenggelam.
Di atas langkan ini aku bersuara lirih namun hatiku berbicara lantang.
Mereka datang tidak hanya ingin melihatku bersenandung.
Mereka datang dengan maksud menghujat tubuh lemahku.
Aku tak berdaya, namun aku bukan seorang pengecut.
Kini hanya aku, sendiri terdiam dan memandang langit jingga yang pudar.
Mungkin inilah senja yang datang dari dunia yang tak lagi suci.
Hidup ini mudah, namun tak semudah membalikkan telapak tangan ku sendiri.
Andai ini adalah mimpi, mungkin aku masih dapat berharap tak pernah terjaga.
Senja telah menghilang dan terganti gelapnya langit tanpa bintang.
yang ada hanyalah cahaya dari lampu yang telah meredup.
Seperti hidup diantara gemerlapnya dunia.
Suatu saat aku tak dapat menghindari kegelapan memakan jiwaku secara perlahan.
Mereka berada di bawahku, namun kami sama rendahnya.
Kami sama berada dibawah mentari yang enggan tenggelam.
Di atas langkan ini aku bersuara lirih namun hatiku berbicara lantang.
Mereka datang tidak hanya ingin melihatku bersenandung.
Mereka datang dengan maksud menghujat tubuh lemahku.
Aku tak berdaya, namun aku bukan seorang pengecut.
Kini hanya aku, sendiri terdiam dan memandang langit jingga yang pudar.
Mungkin inilah senja yang datang dari dunia yang tak lagi suci.
Hidup ini mudah, namun tak semudah membalikkan telapak tangan ku sendiri.
Andai ini adalah mimpi, mungkin aku masih dapat berharap tak pernah terjaga.
Senja telah menghilang dan terganti gelapnya langit tanpa bintang.
yang ada hanyalah cahaya dari lampu yang telah meredup.
Seperti hidup diantara gemerlapnya dunia.
Suatu saat aku tak dapat menghindari kegelapan memakan jiwaku secara perlahan.
-sj
Tidak ada komentar:
Posting Komentar