Kita tidak perlu tau orang lain butuh kita atau tidak, yang terpenting adalah kita selalu ada buat mereka

white

white

Minggu, 20 Oktober 2013

RAYA

Teringat ketika bertemu denganmu waktu itu di sebuah kedai kopi. Kala itu aku belum mengenalmu sepenuhnya dan ketika seorang laki" melangkahkan kaki nya menuju ke tempatmu sepertinya aku mengenal laki" itu. Ternyata dia kawan lamaku kala aku masih di bangku SMP. Aku menyapa nya kemudian dia mengenalkan ku denganmu. Itu pertama kali nya aku berkenalan denganmu dan kita mengucapkan nama masing". Sejak saat itu aku tau nama mu RAYA.

Berjalan seiring waktu kita tak pernah bertukar sapa apa lagi menanyakan satu sama lain. Entah gimana kabarmu hari ini, apa yang sedang kau lakukan aku tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Tapi semoga kau disana selalu sehat dan bahagia. Entah kenapa tanpa kita pernah janjian terlebih dahulu kita bertemu lagi di sebuah hotel. Aku dengan kesibukan tugas kantorku sedangkan kau sedang berlibur untuk menenangkan pikiran, entah apa yang kau pikirkan waktu itu. Setelah selesai dengan perkerjaanku, ku beranikan diri untuk menghampirimu dan menyapamu. HEY Ray, apa kabar? Dan kau pun langsung membalasnya. Alhamdulillah baik ky, kamu sendiri gimana kabarnya?. Alhamdulillah baik juga ray. Sendirian aja ray? ga bareng cowok kamu? Enggk ky, aku sudah gak sama dia. Aku udah gak kuat lagi hubungan jarak jauh terus, padahal aku sudah berharap banyak ama dia. Aku sudah sepenuhnya percaya ama dia, tapi apa yang aku dapat? Hanya sebuah kebohongan belaka, dia kupergok lagi jalan sama wanita lagi saat aku akan membuat kejuataan buatnya. Malah aku yang di buatnya terkejut. Udah akh ga usah bahas dia lagi ky, muak aku kalo inget" dia meskipun aku masih berharap bisa balik ama dia lagi, aku masih mencintai nya ky.

Dengan cepat aku langsung mengeluarkan sapu tanganku dari saku celana ku, dan aku menghapus air mata yang jatuh di pipi mu itu. Maaf ya ray, maaf banget aku enggk tau kalo kamu sudah enggak ama cowok kamu lagi. Maaf kalo aku mengingatkanmu padanya. Iya gpp kok ky. Oiya, kamu disini sedang apa ky? Urusan kantor kah?  Iya ray, aku dapat tugas dari kantor untuk menemui client disini, itung-itung juga buat refreshing gratislah. heuheuheuheu. Kamu disini berapa lama ray? Mungkin sekitar satu mingguan ky, aku mau nenangin pikiranku disini. Aku ingin ke pantai dan jalan-jalan disini. Oh, tapi aku enggk bisa menemani kamu dua hari kedepan soalnya aku masih ada kerjaan yang harus aku selesain. Yeee, sapa juga yang minta ditemenin kamu ky. Ledekan yang spontan keluar dari mulut RAYA kala itu. Muka ku langsung linglung. Ini anak lama-lama bikin gemes aja, celotehku dalam hati. Ya sudah kalau kamu mau jalan hati-hati ya ray, jaga diri mu baik-baik. Siap Pak Ustad, dia selalu mengeluarkan kata-kata yang aku bingung membalasnya.

Tiga hari pun berlalu sejak aku mengobrol denganmu. Tapi aku hari ini tidak melihat mu seperti biasa di pinggir kolam renang. Aku selalu melihatmu disana sebelum aku melakukan pekerjaanku. Entah kemana kamu pergi hari ini. Aku mencari mu sekitar hotel namun tak dapat menemukanmu juga. Aku terus mencari mu karena aku takut terjadi apa-apa denganmu waktu itu. Sungguh aku benar-benar panik waktu itu. Aku menyuruh staff ku untuk menyari mu juga. Tapi mereka juga tidak menemukanmu. Aku ingat sampai pukul menunjukan jam 9 malam, kau mendorong kopermu menuju loby hotel untuk check out. Dengan sigap dan berlari aku langsung menghampirimu. Ray, kamu kemana aja. Seharian kok enggk kelihatan. Apa kamu sakit? Atau kamu sedang ingin menyendiri lagi? Ky............. Dia langsung memelukku tanpa sebab, dan kutau dia meneteskan air matanya ke pundak ku. Ray, kamu kenapa? Ada yang menyakiti mu kah, apa cowok kamu kesini? Tanpa sempat raya membalas pertanyaanku aku langsung menarik tangan nya. Yuk, ikut aku ray, aku ada tempat yang mungkin bisa menenangkan pikiranmu.

Aku pun langsung menyuruh staffku untuk membawa koper raya kembali ke kamarnya lagi, dan aku meminta dia untuk menyarikan motor untukku. Pak bukannyaa kita sudah di siapkan mobil apabila bapak ingin jalan-jalan. Sudah enggak usah banyak tanya kerjain aja apa yang aku inginkan. Carikan motor untukku sekarang juga.

Akhirnya motor sudah siap di depan hotel, aku langsung menarik tangan raya. Entah kenapa dia tidak menolak ajakanku dan nurut kemana pun aku mengajak. Apa dia tidak takut kalau aku apa-apain? Dalam perjalanan menuju tempat yang aku ingin tunjukan pada nya kita berdua sama-sama diam seribu bahasa. Tanpa ada kata yang keluar dari mulut kita berdua. Mungkin bintang dan bulan malam menjadi saksi keheningan kita berdua.

Setelah satu jam perjalanan akhirnya tempat yang kita tuju sampai. Tapi belum sepenuhnya kita sampai tujuan. Karena kita berdua masih perlu jalan kaki menuju kesana, dan raya pun hanya nurut dengan ajakanku. Kita mau kemana ky, tanya raya. Udah ikut saja ray, pasti kamu suka tempatnya percaya sama aku deh. Dia hanya menganggukan kepala seolah itu pertanya dia mengiyakan ajakanku. Setelah setengah jam kita berjalan akhirnya kita sampai tempat tujuan. Raya pun kaget melihat keindahan alam yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Nah bener kan kata ku, di sini indah kan tempatnya. Iya ky, aku belum pernah kesini. Emang bener apa kata temenku itu, kalau kamu selalu bisa membuat kejuatan yang tak di duga-duga. Yuk, duduk aja kita menikmati hamparan ombak yang luas ditemani semilir angin yang berhembus dan bintang bulan melihat kita dari atas sana. Gimana ray, sudah tenangkan pikiranmu? Sudah lumayan ky, tapi... Tapi kenapa ray? Kamu tiga hari ini kemana, kok enggak pernah berjemur lagi di pinggi kolam renang. Ada masalah apa lagi ray? Aku pun di buat penasaran olehnya.

Ia pun hanya diam. Keheningan malam itu mulai terasa. Mungkin raya belom ingin bercerita dengan masalahnya kepadaku. Tanpa disangka-sangka dia meneteskan air mata nya, dan langsung merubuhkan kepala nya di pundakku. Dia hanya menangis. Aku pun di bikin bingung oleh tangisan itu. Kamu kenapa ray, kok tiba-tiba nangis seperti itu. Cerita aja ray mungkin bisa sedikit membuatmu tenang.

Akhirnya raya pun mulai cerita setelah 45 menit kita diam membisu hanya melihat hamparan laut dan rumput di depan mata kita berdua. Gini ky, tapi kamu janji enggak akan berubahkan? Iya aku janji ray :) Ia pun melanjutkan ceritanya. Jadi gini setelah sehari kita berbincang di restoran hotel pertama kali itu ke esokan hari nya cowok ku datang menghampiri ku kemari dan memintaku untuk balikan dengannya. Dia sungguh menyesal dengan perbuatannya, dan tak kan mengulanginya lagi. Dan aku pun meng iyakan ajakan balikannya dengannya, karena aku masih sayang dan cinta ama dia ky. Trus???( ucapan yg keluar dari mulutku, yang sedang fokus akan ceritamu). Nah setelah kita balikan lagi, kita memutuskan untuk keluar jalan untuk sekedar nostalgia akan kenangan indah kita berdua. Semakin lama semakin deras air mata raya, akhirnya aku pun menghentikan cerita nya dan menariknya untuk kembali ke hotel. Yuk balik aja ray, ntar gampang kita terusin lagi ceritamu itu aku siap mendengarkan kapan saja.

Ke esokan hari nya aku menghampiri kamarnya untuk sekedar mengajak nya menyari sarapan di luar hotel. Tapi ketukan dan salam ku tidak dia jawabnya, dan aku telpon nomornya pun enggak aktif. Aku langsung berlari ke bagian reseptionis untuk menanyakan kamar raya. Apa dia sudah keluar dari kamarnya atau belum. Bagian resepsionis pun menjawab, tadi bu RAYA sudah checkout sekitar sejam yang lalu pak. Dia juga tadi kelihatannya keburu-buru. Tadi ibu raya ninggal pesan untuk saya atau berbicara dia akan kemana gitu mbak? Bu raya tadi tidak meninggalkan pesan untuk bapak. Mulai saat itu aku benar-benar merasakan kehilangan. Kehilangan sesuatu yang bukan menjadi hak ku.

Akhirnya aku mencari nomor telfon temen SMP ku yang kebetulan temen Raya juga. Tapi aku tak langsung mendapat kontak temenku itu. Baru seminggu setelah aku terakhir ketemu raya, baru aku mendapatkan kontak temenku itu. Aku langsung segera menelponnya dan menanyakan kabar tentang raya. Sampai disini pun aku tak langsung dapat menemukan kabar tentang raya.

 sampai suatu hari dimana aku lelah untuk mencarinya, mungkin tiga bulan sejak kepergiannya dari hotel waktu itu.  Akhirnya aku dapat kabar raya dari temanku itu.

Ky, raya lagi di bandung dia, kalau gak salah dia lagi berkunjung ke tempat tantenya yang ada di desa. Tapi sekarang si raya masih disana atau enggak aku kurang tau ky.Tanpa berpikir panjang aku langsung ke stasiun untuk mencari tiket kereta, dengan sedikit menyesal aku mendapatkan tiket ke bandung bukan untuk hari ini melainkan keesokkan harinya. Yasudahlah yang penting dapat mencarinya, aku khawatir terjadi apa-apa dengannya. Entah kenapa aku merasa se khawatir ini.

Ke esokan hari aku pun menunggu kereta yang akan aku naiki ke bandung, seperti biasa sambil menunggu kereta aku mencari segelas kopi item panas untuk menemaniku. Entah  kenapa setahun belakangan ini aku lebih suka dengan kopi hitam , padahal dulu aku lebih suka pada kopi late. Apa mungkin ini sedang menggambarkan hidupku yang gelap, pekat, dan pahit tanpa di temani secangkir kopi lagi di ujung sana.Entah lah aku tak mau memikirkan nya lagi, kini yang ku tau aku harus menemui raya. Kereta yang aku tunggu pun akhirnya datang. Dengan sigap aku langsung menaiki nya dan langsung aku mencari nomor tempat dudukku. Nah disini lah mulai gejolak terjadi. Aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang masih asik melihat ke arah luar jendela melihat kerumunan orang yang berada di stasiun. Misi mbak, apa di bangku ini ada yang menepati? Tanya ku. Dia pun menoleh ke arahku, dan langsung kaget melihatku. Aku pun juga kaget melihat sosok wanita itu, yang ternyata dia adalah raya. Ia raya yang sedang aku cari. Entah ini rasa bahagia atau senang aku tak mengerti. Aku langsung duduk sebelahnya yang kebetulan itu tempat dudukku. Aku langsung menaruh tas merah ku, dan melepaskan jaket merah yang selalu aku pakai ketika aku berpergian.

Hey ray, apa kabar? Alhamdulillah baik ky. Akh apa iya baik ray, tapi kok muka mu berkata lain. Kamu lagi ada masalah pasti. Udah enggak usah bohong sama aku ray, mungkin kamu bisa berbohong sama orang lain tapi aku tak dapat kau bohongin. Kamu ini mau kemana ray? Ini aku mau ke tanteku ky yang ada di bandung. Kamu sendiri mau kemana ky? Aku mau ke tempat temenku ray, sudah lama aku tak pernah mengunjungi nya. Aku pun berbohong waktu itu, karena aku takut kalau dia tau bahwa aku sebenarnya mencarinya. Tapi aku sadar dia sudah mempunyai  pria yang menjadi pilihannya. Mungkin aku ini bukan siapa-siapa di hatinya bahkan di hidupnya sekalipun. Aku tak pernah menaruh harapan ke padanya, aku hanya ingin membuatnya kembali bahagia seperti dulu lagi..

Oia, kamu kok waktu di hotel langsung menghilang ray? Kamu kemana? Apa aku salah ya mengajakmu ke tempat itu. Maaf ya ray. Kamu enggk salah kok ky, aku waktu itu terburu-buru untuk balik ke orang tua ku tanpa pamitan terlebih dahulu denganmu. Oh, aku kira aku ada salah sama kamu ray. Enggak kok ky, kamu enggak salah. Dia pun tersenyum padaku. Sungguh senyumannya kini membuat hatiku tenang yang sebelummnya benar-benar khawatir kalo terjadi apa-apa dengannya. Kamu mau kemana ray? kok sendirian aja, mana cowok kamu? Tanyaku. Udahlah ky jangan bahas dia lagi. Kali ini aku bener-bener muak dengan cowok pengecut sepertinya. Akh, kenapa lagi kamu ray, bertengkar lagi kah? Perasaan terakhir kamu cerita ama aku waktu itu kamu bukannya balikan lagi ama dia ray. Raya pun hanya terdiam tak menjawab pertanyaanku, apa aku salah bertanya seperti itu ya? Aduh ray, maaf maaf kalau aku menyinggung perasaanmu. Enggak apa-apa kok ky. Dengan menarik nafas akhir nya dia mulai cerita. Gini ky tapi kamu janji ya kamu enggak akan mencerita hal ini pada orang lain, sekalipun pada sahabat terdekatmu. Entah kenapa aku percaya ama kamu ky dan ingin bercerita denganmu. Aku yang tak pernah mau bercerita tentang masalahku pada orang lain meskipun dengan sahabatku sendiri. Kamu percaya sama aku ray? Aku orang asing lho bagimu, kita baru saja kenal tak lebih dari setengah taun.


Raya pun mulai melanjutkan ceritanya. Gini ky, kamu masih inget kan terakhir aku cerita padamu waktu di bali itu. Aku hanya bisa menganggukan kepala. Setelah jalan keliling kota bali dan dinner di sebuah resto akhir nya kami berdua memutuskan untuk meistirhatkan badan kita karena telah seharian keliling kota bali. Akhirnya aku mengikuti ke cowok aku ke kamar hotelnya yang telah ia pesan. Aku langsung merubuhkan badanku ke kasur dan dia pun juga merubuhkan badan nya ke kasur. Pertama kita hanya saling menatap mata satu sama lain, kemudian badannya semakin mendekat dekat badanku dan akhirnya bibirnya mendarat di bibirku. Aku waktu itu tak dapat memberontaknya ky, karena aku benar-benar mencintai dan sayang padanya. Aku melihat raya meneteskan air mata nya, untung kereta yang kita naiki sepi pengunjung. Kamu enggak apa-apa ray? aku mencoba menghentikan ceritanya. Enggak apa-apa ky. Aku lanjut ya ceritaku jangan di hentiin lagi!!! Setelah bibir kita menempel, yang aku bayangin aku ingin bahagia dengan dia selamanya. Akhir nya aku melakukan hal yang tak semestinya aku lakukan dengannya sebelum akad nikah ky. Aku pun sontak kaget dan langsung berdiri. Kamu serius ray? Kamu gak main-main kan dengan ceritamu itu? Ia hanya menganggukan kepala nya dan menangis. Dengan rasa kecewa aku langsung ke kamar mandi. Bentar ya ray, aku ke kamar mandi dulu.

Dalam kamar mandi aku sempet masih enggak percaya sama apa yang barusan aku dengerin. Apa aku sedang mimpi? Apa yang yang terjadi dengannya. Aku memukul dinding kereta itu, yang ternyata rasa sakit yang aku rasain. Brarti ini bukan mimpi. Akhirnya aku kembali lagi ke tempat dudukku. Saking penasarannya aku ulangin lagi dengan pertanyaanku. Kamu beneran melakukan itu dengan cowok kamu? Raya pun hanya bisa menganggukan kepalanya dan menangis lagi. Terus cowok kamu kemana? Apa dia mau tanggung jawab kepadamu? Itu pertanyaan yang enggak aku bisa jawab ky. Mungkin hanya surat yang iya tulis setelah iya meninggalkan di kamar hotel itu sendirian bisa menjawab pertanyaanmu. " sayang maafkan aku ya, aku semalam bener-bener khilaf melakukan hal itu denganmu. Aku benar-benar tak sadar melakukan itu denganmu. Sungguh aku sayang dan mencintaimu. Maafkan aku meninggalkanmu disini sendiri, mungkin saat kamu terbangun dari tidurmu aku sudah tak lagi di sampingmu. Maafkan aku ya sayangku"

Aku enggak tau maksud dia menulis surat itu untuk apa. Aku pikir dia lelaki yang bisa bertanggung jawab akan komitmen kita berdua, setelah kita berpacaran kurang lebih empat tahun. Ternyata dia hanya seorang laki-laki yang pengecut. Mungkin lelaki di dunia ini sama. Sama-sama pengecut sepertinya bila di hadapi masalah seperti ku ini.

Raya pun semakin meledak-meledak kemarahannya, aku langsung menarik kepalanya kepundak ku. Udah ray, jangan marah terus tenangin pikiranmu. Kamu jangan cepat stres kasihan tuh ama badanmu. Terus cowok kamu kemana ray? Tanya ku. Entah ky, si pengecut itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku telah mencari ke rumahnya bahkan tanya kesahabat-sahabatnya, satupun mereka tak mengetahui keberadaannya. Aku bingung saat itu ky.Sungguh bingung apa yang harus aku lakukan. Ke dua orang tua ku pun belum mengetahui apa yang terjadi denganku. Aku takut mereka kecewa denganku. Sungguh aku menyesal ky telah melakukan perbuatan itu dengannya. Tapi aku sampai saat ini masih mencintai dan sayang padanya. Aku harap dia bisa bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Kini aku mengandung darah daging atas perbuatannya. Aku memikul beban ini sendirian. Air mata raya pun semakin deras menetes di pipi. Udah ray, sudah. Jangan nangis lagi aku jadi ikut nangis nih. Aku ngelempar candaanku untuk membuatnya sedikit tertawa. Yuk, kita tidur dulu perjalanan kita masih jauh. Akhirnya tak lama kemudian raya langsung tidur dan kepala nya berada di pundakku. Aku dapat melihat wajahnya dari dekat seperti ini. Dia cantik juga ya kalau masih tidur meskipun kantong mata nya sembab sehabis dia menangis.

Dalam keheningan malam itu, aku terus berpikir dan tak bisa tidur. Aku membiarkan raya tidur di pundakku, dengan sigap aku menyelimuti badannya dengan jaketku. Dia nampak kedinginan waktu itu. Sungguh aku tak berani memegangnya. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh bingung. Aku mohon petunjukmu. Sejam, dua, tiga, empat jam pun berlalu. Dia pun sontak terbangun dan kaget ketika dia tidur di pundakku. Maaf ya ky aku tidur di pundakmu. Kamu enggak keberatankan? Tanya raya. Enggak kenapa-napa kok ray sante saja. Tak lama kemudian kereta kita pun berhenti di stasiun bandung. Kita bergegas mengambil barang masing-masing. Dan raya nampak merapikan rambutnya yang berantakan.

Sini biar tasmu aku bawain, aku menawarkan diri untuk membawa tas nya yang kebetulan lumayan berat. Kamu abis ini mau kemana ky? hmmmmmm... Aku bingung ni ray, mungkin aku tak jadi ke tempat temenku. Aku ikut kamu aja ya, boleh kan? Dia hanya diam, menandakan bahwa iya tak menolaknya. Cari makan yuk ray, laper nih. Dasar kamu ky, makan melulu yang ada di otak kamu. Tuh ada soto di seberang jalan mungkin enak ray, cobain yuk. Kamu enggak apa-apa kan makan di pinggir jalan seperti itu. Yee, sante aja ky, aku malah suka makan di pinggir jalan seperti itu kok. Jawabnya.  Akhirnya aku memesan 2 mangkuk soto, dan seperti biasa dia selalu menambahkan garam ke mangkuknya. Emang kurang asin ya ray, kok kamu tambahin garam lagi. Iya ky, abis kurang asin kuahnya lagipula aku juga suka asin kok. heuheuheuheu... Setelah selesai makan kita hanya duduk terdiam sambil menunggu sodara raya yang akan menjemput kita. Tak lama kemudian saudara nya pun datang, kami berdua langsung naik ke mobil itu.

Dan disini aku berkenalan dengan sepupu nya. Sebut saja dia bintang. Di jalan aku sempet bercanda dengan dua wanita yang berada di depanku. AKhirnya aku pamit untuk tidur. Raya pun dengan spontan mengatakn yeeee dasar tukang tiduuur dan tukang makan pantes tuh perut bulet. heuheuheu... Mereka berdua ketawa bahagia dan aku tak memperdulikannya. Aku tetap melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian kita sampai tempat tujuan. Aku pun di bangunkan oleh raya dengan cara unik. Dia meniup telingaku yang sontak membuatku terbangun dan kaget. Wajahku dan wajah raya pun tak sengaja berdekatan kareana kekagetanku di bangunkan olehnya. Dengan cepat aku menarik wajahku dari wajahnya, meskipun kita sempat saling terdiam dan memandang satu sama lain. Oiya kamar kamu di pojok ya, sebenarnya kamu di suruh tidur di kamar adiknya bintang tapi dia nya gak mau kamarnya di tempati orang lain. Iya, gpp kok ray. Di kasih tempat buat tidur gratis ya aku terima saja heuheuheuheu... Hah? Gratis? Sapa bilang gratis ky, khusus kamu harus bayar hahahaha. Akhirnya aku melihat raya kembali tertawa lagi setelah semalam dia menangis. Aku langsung menuju ke kamar yang telah di siapkan untukku. Aku langsung merbahkan tubuhku ini ke kasur yang empuk itu. Ingin langsung aku melanjutkan tidurku lagi. Tapi badan ini menolaknya. Mungkin rasa lengket yang keluar akibat keringat yang muncul. Akhirnya aku putuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum melanjutkan tidurku lagi. Setelah mandi pun aku tak bisa melanjutkan tidurku lagi, si raya mengajak ku makan malam dengan tante dan om nya. Akhirnya aku di kenalkan kepada mereka. Akhirnya kita ber lima makan bersama-sama. Aku, raya, bintang, om dan tante. Ky, mau aku buatin minum. Boleh jawabku, seperti biasanya ya ray. Seolah-olah aku dengannya sudah mengetahui kesukaan satu sama lain. Okey siap pak bos, gula setengah sendok kan. Tak lama kemudian minuman pesananku datang kopi hitam yang pekat kesukaanku. Dengan Pe-De nya aku melontarkan pertanyaan kepada om nya raya yang kebetulan itu ayahnya bintang. Om, suka olahraga ya, kapan-kapan boleh nih kita tanding tenis lapangan heuheuheu. Wah om gak jago-jago amat maen tenis nya, yang pinter tuh papa nya si raya. Dia jago banget maen tenisnya. Wah gpp om aku juga gak begitu jago maen tenisnya cuman tau dasar permainannya saja. Setelah selesai makan dan minum kopi buatan raya, akhirnya aku pamitan untuk tidur. Om, tante rizky pamit tidur duluan ya, mau meristirahatkan badan. Aku langsung menuju ke kamarku, dan merebahkan ke kasur yang empuk itu. Akhirnya aku bisa tidur juga.

Ke esokan hari nya setelah shalat subuh, raya mengajakku jalan-jalan. Kebetulan di sekitar sini ada kebun teh dan strawberry. Mbak bintang enggak kamu ajak ray? tanyaku. Dia mah lagi ngebo, kebiasaan dia selalu bangun siang hari kalau masih musim liburan seperti ini. Akhirnya aku mulai melangkahkan kaki ku, berduaan dengan raya. Kita hanya berdiam diri sambil menikmati kesejukan dan keindahan alam pagi itu. Raya pun menghentikan langkahnya, bantuin aku naik ke batu besar yang ada di depan ya ky. Dengan sigap aku membantu nya untuk naik ke batu itu kemudian aku naik ke batu itu juga. Duduh gih ky kayak satpam aja, disini tempat favorit aku. Kalau aku sedang ada masalah atau ingin menenengankan diri ya disini. Setengah jam pun berlalu, kita hanya berdiam diri tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut kita masing-masing.

Akhirnya aku berani diri untuk menanyakan kembali tentang masalah yang sedang ia jalani sendiri. Ray, terus gimana kelanjutanmu? Apa kamu masih menunggu nya. Apa kamu bisa ngejalanin hidupmu sendirian ray. Untuk saat ini aku masih bisa menghadapinya sendiri kok ky. Tapi apa kamu bisa menjawab semua pertanyaan orang tentang apa yang kau alami ini ray? Tanpa berpikir panjang dengan spontan aku mengatakan aku siap menikahmu ray. Aku siap jadi bapak dari anakmu itu. Raya pun hanya diam melihatku. Apa yang kamu lakuin ky, kamu mau jadi pahlawan kesiangan yang gagah untuk membantuku menjawab pertanyaan orang-orang tentang hidupku. Aku tanya balik ray, apa kamu bisa ngejawab pertanyaan itu semua sendiri? Jawab ray !!! Jawab !!!

Raya pun kembali menangis dan air mata mulai membanjiri pipi nya. Ky, meskipun kita menikah aku enggak bisa mencintai dan sayang padamu. Karena aku masih sayang dan cinta pada cowok ku itu. Iya, gpp kok ray, aku akan sabar nerima itu semua. Aku janji, aku enggak akan pernah menyentuhmu sedikitmu, dan aku janji setelah kita sama- sama akan mencari cowok kamu itu. Setelah kita menemukannya aku janji, aku akan pergi dari kehidupanmu. Itu janji ku pada mu ray, yang penting sekarang aku akan berusaha untuk nge bahagiain kamu ray. Aku akan bicara dengan kedua orang tua mu, bahwa aku yang telah melakukan perbuatan yang tak terpuji itu, dan aku akan meninggalkan semua pekerjaanku. Kita bisa mencari tempat dan suasana baru. Raya pun hanya bisa tersenyum.

Dua hari pun telah berlalu, akhirnya kita berdua pamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku menemui orang tua ku di yogyakarta, sedangkan raya menemui orang tua nya di malang. Akhirnya kita berpisah di stasiun. Karena kita menaiki kereta yang berbeda. Hati-hati di jalan ray, jaga dirimu dan bayi mu baik-baik ya. itu kata-kata ku yang keluar dari mulutku sebelum ia dan kereta nya berangkat. Kemudian aku mencari kereta ku sendiri yang menuju kota pelajar yaitu Yogyakarta. Dalam perjalanan aku terus memikirankan pilihan yang telah aku putuskan. Matilah aku, gimana cara ngomong sama ibu dan bapakku. Entahlah semakin di pikir malah membuatku semakin stres. Daripada memikirankan hal itu lebih baik aku tidur saja. Setelah delapan jam perjalanan sampailah aku ke kota asalku. Dan di luar sana telah ada orang tua ku yang menjemputku. Aku langsung mencium tangan ibu ku dan bapakku. Aku pura-pura tidak terjadi apa-apa denganku. Aku belom berani untuk mengatakan hal itu kepada ke dua orang tua ku sekarang. Aku takut mengkecewakan mereka berdua yang telah susah payah membahagiakan ku dan mendidikku sehingga aku seperti sekarang ini. Setelah sampainya di rumah aku langsung berbaring ke tempat tidurku dan kembali untuk tidur kembali.

Pagi itu langit nampak cerah dan burung-burung pun berkicauan. Seakan-akan mereka mengabarkan sesuatu hal yang bahagia kepadaku. Aku lihat ibu ku sedang memasak sarapan pagi untuk keluargaku. Aku langsung menghampiri nya dan mengatakan "selamat pagi bu, masak apa hari ini". Lho, kamu enggak siap-siap untuk berangkat kerja hari ini nak?

Biasa nya kalau jam segini kamu sudah rapi dengan kemeja dan jas hitam mu itu. Iya bu, itu kan kemarin-kemarin hari ini beda. Rizky sekarang udah enggak bekerja lagi bu, aku sudah memikirkan matang-matang atas keputusan yang telah aku buat. Aku ingin menjalani hidup baru ku. Maksudmu gimana nak? Kamu mau melebur semua angan dan cita-cita yang ingin kau capai itu. Kamu ada masalah apa to nak. Cerita ama ibu.

Gini bu, rizky minta maaf ya kalau selama ini belum bisa membahagiain ibu sama bapak serta adik-adik. Malah sekarang aku membuat ibu kecewa mungkin ibu akan malu setelah mendengarkan ceritaku. Terserah ibu mara atau akan mengusirku dari rumah ini atau enggak aku telah siap menerima resiko itu. Air mata ku tak kuat ku bendung, akhirnya air mata itu pun menetes di pipiku. 

Tiga bulan yang lalu tepatnya di bali waktu aku dapat proyek disana, ibu inget kan. Nah di situ lah awal mula masalah itu. Aku bertemu dengan seorang wanita dan akrab dengannya, sampai suatu malam aku dengannya masuk kamar hotel yang sama dan melakukan hal yang tak sepantasnya aku lakukan dengannya. Dalam hati ku berkata "maafkan aku bu, aku telah berbohong kepadamu sungguh aku tak ingin semua ini terjadi begini" . Tanpa melanjutkan pembicaraanku ibu ku langsung menangis dan menampar pipi ku. Aku terima tamparan itu karena itu semua kesalahan yang telah aku perbuat. Tapi apa daya inilah pilihan singkat yang telah aku pilih. Aku harus siap menerima segala resiko yang ada. Ibu tak henti-hentinya memukulku, dan ia terus menangis yang membuatku ikut semakin menangis dan meminta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat. Aku berulang kali meminta maaf kepada ibu ku, dan aku langsung mencium kaki ibu ku yang ku lakukan berulang kali. Suasana dapur saat itu tiba" mendadak berubah menjadi suasana sedih dan kecewa. Mendengar suara tangisan ibu ku, ayahku langsung berlari menuju dapur, dan bertanya ada apa ky.. mah... Kok kalian berdua nangis. Ini lho anak lanangamu membuat malu keluarga kita. Apa kita salah mendidik anak-anak kita pak, sehingga rizky bisa melakukan perbuatan itu. Tangisan ibu ku semakin menjadi-jadi ia
semakin histeris. Ayahku mencoba menenangkan ibu ku, dan mencari tau apa yang sedang terjadi. Coba kamu cerita kepada ayahmu ini, apa yang telah kamu lakukan sehingga membuat ibumu menangis se histeris ini. Maaf in aku yah, aku sungguh menyesal atas perbuatanku. Aku telah melakukan perbuatan yang tak seharusnya aku lakuin dan sekarang dia mengandung anak ku. Umurnya sudah memasuki hampir bulan ke empat. Astagfirullahalladzim, apa yang kamu lakukan ky. Kamu sungguh membuat ayah sama ibu mu malu. Kamu membuat kami kecewa. Ayah dan ibu mu enggak pernah mendidik mu seperti itu. Dengan spontan ayah ku mengusir dan menyeretku keluar rumah. Yah, rizky minta ampun yaah aku menyesal atas perbuatanku. Ayah boleh memukulku sampai aku mati pun engak apa-apa. Tapi izinkan aku menikah dengan raya yah. Aku bener-bener mohon kepada ayah. Tanpa memperdulikan omongaku ayahku tetap menyeretku keluar rumah dan memukul. Sumpah serampah pun keluar dari mulutnya. Pergi kau, mulai hari ini kau bukan anakku lagi !!! Dia langsung mengunci pintu rumah, dan aku terus menggendor-gedor pintu rumah itu. Ayah...... Ibuuu akuu minta maaf, aku bener-bener menyesal. Aku minta maaf, maafin aku. Kata-kata itu yang berulang kali aku ucapkan. Dan terus aku lakukan sambil air mata ini tak henti-hentinya mengalir.

Akhirnya pintu rumahku pun terbuka lagi, dan yang muncul sosok ibu ku. Sini nak masuk, ibu mau bicara. Dengan spontan aku langsung menyium kaki ibu ku lagi dan meminta maaf berulang kali. Dengan cepat ayahku muncul di belakang ibu ku. Kenapa kamu bukain pintu untuk anak yang tak tau diri ini. Ayahku kembali lagi menyeretku kembali keluar rumah. Kali ini ibu ku tak berdiam diri, kini beliau mulai membelaku. Udah yah, jangan begitu sama darah dagingmu sendiri. Apapun yang ia lakukan itu masih menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua. Ayahku tetap tak menghiraukan apa yang di katakan oleh ibu ku. Dia masih tersulut oleh emosinya. Kalau ayah masih enggak mau menerima kesalah anak kita, ibu akan keluar juga dari rumah ini !!! Aku akan pergi bersama anak mu ini ...

Ya tuhan kenapa urusan nya jadi begini, kenapa niat baikku malah jadi petaka buat keluarga sendiri, berilah hamba mu ini petunjuk ya rabb. Hamba mu ini benar-benar sedang bingung. Apa yang aku lakukan salah, aku hanya ingin menolong seorang teman yang sedang di landa masalah yang cukup sulit.Karena aku sadar raya bukan milikku dan hak ku, karena dia masih mencintai pacarnya yang entah sekarang ada dimana.

Sudah cukup!!! Biar aku yang nanggung masalahku ini sendiri, bagaimanapun dia darah dagingku yang mempunyai hak untuk aku beri nafkah. Kalo ayah sama ibu enggak kasih restu, aku akan pergi dari rumah ini dan tak kan pernah menginjak kaki di rumah ini lagi. Aku masih sanggup membiayai hidup Raya dan calon anakku. (bersambung)




1 komentar: