Musim layang-layang pun tiba . Di kampung ku jika musim laang-layang tiba, langit tiba-tiba penuh dengan hiasan warna-warni. Layang- layang yang terbuat dari kertas minyak dan ditarik dengan benang gelasan, membuat anak kecil sepertiku riang gembira.
Seluruhnya, layang-layang itu berada dalam warna pelangi yang indah, melayang-layang, berputar-putar menembus awan, berhembus dan tertiup angin jauh di atas ku, di atas rumah-rumah kampung yang beratapkan genting tanah liat, berdesak"an, bahkan meski harus menyisakan sedikit jalan" tikus, tetapi jika kau potret dari atas lengkong- lengkong itu, di atasnya telah di tiup dengan seng dan genting yang kemudian dijadikan tempat istirahat yang teduh, menggantikan halaman yang memang sudah tidak ada.
Seluruh tanah dihabiskan untuk bangunan, hingga orang-orang kampung kebingungan rumah mereka tak punya halaman, maka diam-diam mencuri badan jalan atau lengkong" sempit untuk dijadikan halaman.
Kalau angin tertiup tak tentu arah dan sulit dikendakikan, layang" kami akan tersangkut kabel listrik. Aku bayangkan, tiang listrik adalah jemuran raksasa yang sering di tenggeri burung" pipit untuk mengincar makanan dari atas. Maka, bisa dipastikan orang dewasa akan marah jika layang" yang tersangkut kabel akan memutuskan aliran listrik. membuat rumah" jadi padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar