aku berdiri di tengah hujan. nampak selalu gila seperti itu, kau hanya melihatnya dari jendela sebelum menghampiriku. Kau yang selalu misterius dengan gelap mata dan rambut ceroboh. Kau termasuk sensitif , tapi terlalu dingin untuk peduli. Kau berdiri di ambang pintu, dengan tidak apa-apa berbicara sepatahpun. Selain beberapa komentar pada cuaca.
Seperti biasa kau selalu brilian di pagi hari, merokok dan berbicara atas kopi.
Aku hanya mendengarkan cerita dari kejadian aneh yang terjadi di
kantormu. Kini aku hanyalah masa lalumu, yang pernah menjadi pasangan
secangkir kopi mu kala aku berkunjung ke kotamu dan aku sekarang berada di depanmu. Ada kerut kenangan
terukir di dasar cangkir, mengundang bibirmu yang memang bersikeras
mencium ampas sementara masa lalu tak patut kita gali dan percakapan
perlahan menjadi mahal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar