kuputuskan untuk melangkah meninggalkan kenyamananku. Menutup kesempatan tertawa dan menangis sekaligus. Aku adalah seorang pemimpi yang berada dalam mayat hidup. Manusia mati. Kuputuskan menyimpan segala hatiku dan menggantikannya dengan sebuah kolase. Kolase yang tersusun dari syair-syair perihal mimpi. Aku adalah mayat hidup itu.
angin telah mengering. Siang yang kerontang meleburkan hawa panas dengan tanah kering. Kulepaskan pakaian yang melekat. Biarlah kuhadapi panas dengan bertelanjang dada sambil duduk dengan menatap jauh tanah lapang yang retak, sambil meminum segelas air dingin yang terkapar, kehilangan kedigdayanya. Panas telah menang.
malam pun tiba seolah siang pun tak mau menghilang. Panas nya masih terasa hingga kini. Air dingin yang kuminum tak dapat menjernihkan pikiranku, yang sudah terlanjur kering keruh dan tak beraturan. Apa yang terjadi? Apa doa ku telah terkabul? Apa mereka menginginkanku pergi menjauh dari tempat yang nyaman itu? Entahlah aku tak mengerti. Biarlah ini semua mengalir, seperti daun yang jatuh ke sungai yang akan berlayar hingga menemukan muara nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar